Selasa, 26 April 2016

Aberijlain Gomar Samsara Kau dan lonte




(18)


Kau dan lonte

Kau cuma bisa mencemooh lonte
Menghinadinakan ia
Bukankah dia saudara sebangsamu?
Kalian samasama manusia
Sangat muliakah kau?
Tanyalah : jika tahu bakal jadi lonte
ia tidak sudi dilahirkan
Mana pedulimu?
Lonte butuh duit!
Sama sepertimu
Jangan dulu tanyakan peran negara
Tapi apa peranmu
Sebagai tetangga
Sebagai saudara
Asal kau tahu
Dosamu jauh lebih besar

Jepara, 170416




Heru Mugiarso. Penyair Masturbasi



(19)
 Heru Mugiarso.
Penyair Masturbasi
seorang penyair
semalam bermimpi:
Menulis puisi sendiri
Menerbitkan antologi puisi sendiri
Dijual sendiri
dan ketika tak juga laku
akhirnya dibaca sendiri
sambil mengagumi
dirinya sendiri
esok paginya
celana dalamnya basah
tanpa dia sadari
poedejanggasoedra2016

Eri Syofratmin , Aku dan Anjing Di Tumpukan Sampah



(20)
Eri Syofratmin
AKU DAN ANJING DITUMPUKAN SAMPAH
Ditumpukan sampah
ada anjing telah mengais aksara
menciumi buntang yang berulat
gonggong tulang kekandang
Ditumpukan
sampah,
aku lihat
anjing senang
puisi
Ditumpukan
sampah,
ada syair;
buang sampah:
ANJING
Setelah letih berceracau
menebar aksara dionggokan
sampah-sampah kota
aroma busukbusuk itu tak dapat ditutupi
bau buntang
bau kain lap
bau jamban
bau tai
bau segala bau
terkumpul di pembuangan sampah
Ternyata; "Benar"
sisa-sisa
sisi-sisi
kehidupan
manusia itu:
"MEMANG BUSUK !!!
Kota LINTAS, 24 April 2016.

Fernanda Rochman Ardhana, Sajak Klimaks



 (21)
Fernanda Rochman Ardhana
SAJAK KLIMAKS
Ini negara kau lihat merdeka
saat tersimpan tangis bayi dalam bejana
lalu tergadaikan di bumi-bumi perdagangan
bertukar nominal, satu bayi bergerak
menyusu dari dadamu hingga dada buatan
bagaimana bisa? bisa!
karena negara ini telah merdeka
kau bebas jual nyawa buah sengketa
dari kekasihmu yang menidurimu sepanjang sabtu
lalu dari kekasihmu yang lain menunggangimu sepanjang minggu
dan berpuluh-puluh lainnya masih menunggu jatah dari bibirmu
hingga entah siapa yang sudi membelikan misoprostol untukmu?
agar anakmu tak lahir
agar tunas bangsa darimu tak lahir
agar nyawa buah sengketa tak lahir
nyatanya tak ada!
sekedar menengok atau hendak mengakuinya
di hari-hari ia mentahtai rahimmu, hingga
terbidang jalan lapang menatap dunia, dan
bila kau tumbuhkan dengan kasih sayang
kelak racau mulutnya menggugat tanya
“Ibu, mana bapakku?”
“Ibu, siapa bapakku?”
“Ibu, matikah bapakku?”
Cileunyi, 2016

Suyatri, Tragis



(22)

Suyatri
TRAGIS

Anak kolong tanpa alas kaki
Menyusuri lorong limbah pengap
Sungguh miris sinar mata nanar
Harapan berserakan di jalanan

Baju lusuh tertatih-tatih tanpa mengenyam pendidikan
Dekil tanpa cahaya bintang
Pelangi pudar dalam bayangan
Pejabat berbaju necis mencibir memandang

Hak anak dikebiri mati
Terpasung oleh tragedi
Tragis kejamnya hidup ini
Impian hanya ilusi
Permainan imajinasi
Takkan pernah hiasi langit dengan pelangi senyum
Mengabdi pada negeri

24042016



Kamis, 24 Maret 2016

Jampijampi si Ular Kepala Dua, Ness Kartamihardja

Jampijampi si Ular Kepala Dua
.
cekikikan cekakakan
tawamu itu membuatku hampir mati,
tercekik benci karatan!
.
Karpet merahmu blepotan lumpur, bung
dan lihat, di kepalamu tumbuh tanduk!
.
Kamu itu banteng apa kerbo dongok?
Atau jangan-jangan setan pemangsa kawan,
yang tersesat di dalam gedung pemujaan
.
Hush, hush, hush ...!
sesama mahluk pengganggu,
jangan saling ganggu,
pergi kau setan,
ke seberang ke selatan ke Australia ke Selandia
ke Haiti sekalian
.
Pulang-pulang bawa voodoo,
untuk bunuh para calo!
.
(Sttt ...,
semua sudah tidur?
Mari bung, kita ngitung duit untung ...)
.
21maret16

PUISI MODERN, Muhammad Lefand

PUISI MODERN
kutulis dengan mengetik di beranda facebook
tanpa kertas tanpa pena
bermetafora status
tanpa personifikasi komentar-komentar
dengan sedikit repetisi like
Jember, 17-03-2016

GERHANA JAKARTA, Cunong Nunuk Suraja

GERHANA JAKARTA
matahari bergelung di balik gaun bulan
pangeran merucat semedi meletakkan mahkota
gelombang bendera bianglala pecah berserpihan
mengiris senja memerah meremas luka politik
gempa menggoyang singgasana runtuhkan imaji
geriyap putus asa menjepit pilihan kuasa angan
gemulai selendang penari menggoyang bayang
luruhnya pagutan amarah dalam sekam kesumat
Jakarta menanti pinangan pengantin
2016

Malam Selasa. Nana Sastrawan

Malam Selasa
Gelap bintang dan rembulan
burung malam
menggigil di ranting
pohon jambu
seorang manusia
memeluk keheningan
dan pergilah
mimpi ke lubang malam
merapal mantra
sementara angin
meresap di pucuk dedaunan
menitis nasib
menggema suara sepi
yang jatuh ke tanah
temani kegelisahan
ah, dunia telah menjadi karma

AHOK, A Slamet Widodo

AHOK
Ahok adalah anomali
politik mapan ia dekontruksi
diluar kelaziman seorang politisi
kalau politisi suka konsensus dan kompromi
ia jenis manusia yang tak menyukai
anehnya popolaritasnya naik elektabilitasnya tinggi
Ahok memang kasar
bicaranya tak enak didengar
meledak ledak menggelegar
ngomong tidak piawai
tapi maksudnya sampai
gampang bilang maling atau anjing
seakan mulutnya tak pernah sekolah
maka oleh musuh ia dicaci dan dibenci
Ahok bukan orang munafik
bicara dibumi kenyataan
ia pekerja keras dan nyata
keberanianya jangan ditanya
satunya kata dengan perbuatan
ia tegas menggusur
tapi siapkan rumah susun pengganti
ia memecat dan menggeser
bagi pejabat yang korup dan tak melayani
ia merubah wajah birokrasi
menjadi birokrasi yang mengayomi
Ia menghunus pedang anti korupsi
maka para koruptor tengkuknya berdiri
Ahok oleh rakyat dipuja dan disukai
Ahok memang sialan
tak mau disogok
tak mau bayar mahar
tak mau melamar
tak mau jadi petugas partai
tak mau bikin komitmen
tak mau dititipin ini itu
apalagi diminta ini itu
bikin ketua partai besar marah besar
Ahok tak mau dibebani
tak mau politik balas budi
tidak mau didekte partai
saatnya ia memberi bukti
gubernur tak harus lewat jalur partai
"Teman Ahok"jadi kendaraan tuk mengapai
Ahok orang yang cerdas
setiap masalah dihadapi dengan tangkas
ketika ditanya wakil rakyat
kenapa yang digusur Kalijodo bukan Alexis
" kalijodo itu jalur hijau harus kembali ke jalur hijau"
pelacuran itu ada sejak nabi adam tak bisa dihilangkan
ingat saya pendukung lokalisasi
semua yang tak ada izinya saya sikat
tapi ingat Alexis juga tempat wakil rakyat istirahat
surga sekarang tidak dibawah telapak kaki ibu
tapi surga ada dilantai ketujuh .....Alexis "
Ahok tak takut mati
mati baginya adalah keberuntungan
ketika ia perang membela kebenaran
ia ingin dimakamkan di Kalibata bukan di Kalijodo
Bila Ahok menang
bikin parpol kobol kobol
mesin partai ngadat
bensin nya habis
pelumasnya kering
maka mereka beramai ramai
dengan segala cara dipakai
menjegal Ahok bekompetisi
Save Ahok
Jakarta, 10 Maret 2016

ISTRI , Agus Chaerudin

ISTRI SHALEHAH
Engkau selalu menyebut namaku
Di dalam setiap doa terbaikmu
Hingga ringanlah langkahku
Menghadapi kerasnya dunia ini
Bahagiaku memilikimu, bidadari
Suami mana takkan bangga
Disayang istri sepenuh jiwa
Harta bukanlah tujuan utama
Wanita sholehah menghiasi jiwa
Serasa mencium bunga surga
Air wajahmu sebening permata
Selalu terjaga di malam buta
Memohon perlindungan Ilahi Robbi
Dari segala marabahaya, mengintai
Selamatkan rumah tangga dari api neraka
Tangerang, AC25032016

WONG, Penyair Terhunus

WONG
Makan tuh kata kata syair
Telen tuh kalimat puisi
Bakar semua huruf 
Aku yo ora gelem takon
"Apa itu sastramu?"
Sakarepmu !
Wong, kata Gus Dur
" Gitu aja kok repot"