Selasa, 26 April 2016

Dewa Putu Sahadewa Dunia Paranoia



(13)
Dewa Putu Sahadewa
Dunia Paranoia

Melihat perempuan berrok mini
Itu sumber perkosaan kau yakini

Melihat kebaya kelihatan pundak
Kau takut nafsu bangsa meledak

Lalu kau kaburkan gambar indah di televisi
Kau beri penjelasan segala kecurigaan
seolah paling berjasa menjaga ahlak
anak anak
tapi sebenarnya kau sedang sakit
entah karena terkena virus
atau salah mengeja ayat
Aslinya, kau sendiri tak mampu menahan syahwat
kau jadi penguasa paranoia
mengajak semua saling curiga

Aduh kacamatamu apa
sehingga hampir semua terlihat nista

Ambang nafsu di bawah pusar
sesekali kau perlu ditampar
supaya sadar
dan otakmu bisa mekar.

Maret 2016
Dewa Putu Sahadewa





Uncu Nelma " Seperti Biasa "



(14)
Uncu Nelma

" Seperti Biasa "

Seperti biasa...
Malam akan semakin kelam
Dingin semakin mengkristalkan asa
Bayu pun berhembus kencang di malam kelam

Seperti biasa...
Aku terjaga di malam buta
Sendiri ku pintal asa
Berburu mimpi yang tak nyata

Seperti biasa...
Aku sendiri tanpa kawan
Hanya sesal yang selalu menyiksa
Hatiku berkabut dan berawan

Uncu Nelma
17April2016




Arya Setra DI BAWAH HUJAN MALAM



(15).
DI BAWAH HUJAN MALAM
Ketika hujan datang bertandang
Menyadarkan imaji
Yang sesekali ku toreh menjadi berhala di bibir kata dan rupa
Sampai aku lupa cara menuang rasa...
Tidak ada apa-apa disini selain hujan,
Bagaikan energi yg mengusap kulit
Meninggalkan rasa tajam dan perih mengoyak hati,,,
Bagiku menggambarkan dunia " nyata"
Sangatlah membosakan Refresif dan mengecilkan hati
Janganlah kau racuni hatimu dengan sikap fanatisme
Intoleran, militan apalagi radikal menghancurkan diri,,,
Hanya dari sikap ketololan
Yang tidak pernah di produksi oleh kitab manapun..
Ku akui kegelapan itu milikmu
Tapi janganlah kau meminta kepadaku api,,,
Karena telah lama kupadamkan
Di dalam gelas kopiku.
Menyapalah dengan cinta
Walau semuanya diam tak terdengar
Hanya gerak hasrat yang menggeliat lembut di hati
Seperti tubuh molek bidadari memberi mimpi abadi
Aku menyerah dan pasrah
Di kurung dimensi energi
Menyusun segala elemen materi
Karena semua yg hidup pasti akan mati
Menuju wujud sejati,,,,,
17/4/2016.

Al-faiz Wansa Ahmad Suara Berdecit Dari Sepeda Ontel Tua Itu



(16)
Suara Berdecit Dari Sepeda Ontel Tua Itu

Suara berdecit dari sepeda ontel tua itu, menggiring lamunanku.
 Pada wajahmu yang dulu.
Begitu rupawan, dan cantik, namun itulah dulu.
Masa-masa silam.
Waktu cinta kumengerti sebagai.
 Kemolekan tubuhmu.
Saat ini aku tetap mencintai.
 Bukan. Bukan sepeda ontel tua itu.
Bukan pula tubuh molek itu. Yang dulu.
Kugandrungi. Tapi kenangan-kenangan.
Yang memapah waktu.
 Dimana saat ini kupahami cinta.
 Dari mengenangmu.
Bandar Lampung,
22/04/2016 .

Sang Bayang, Mazmur Kota



(17)
Sang Banyang
Mazmur Kota

sampai di hidung tercium ragu
masih harumkah kau :kota
mimpi bagi anak-anak kami
tiada jawab di sana
lantas bergegas, kuterka kepulan asap
masih indahkah kiranya?
padahal aku telah lupa
mazmur cinta bau nikmatnya surga
cuma akal menimbang
segala musim yang telah gugur
ketika senja tak lagi jingga menyala
:di sana

( Ngrambe, 22 April 2016 )