Kamis, 18 Februari 2016

KAPAN NYUSUL, Aloysius Slamet Widodo

KAPAN NYUSUL

Aloysius Slamet Widodo
Tetangga saya pak Jalidi
orangnya kepo setengah mati
urusan orang lain suka dicampuri
saya termasuk orang yang dibuli

Saat saya kecil
ketika anak tetangga sunat ia bilang
" nak ... kapan kamu nyusul ?"
saya diam tak menjawab
Saat tetangga anaknya lulus sarjana ia bilang
" nak kapan kamu nyusul?"
saya diam tak menjawab
Saat tentangga menggawinkan anak ia bilang
"nak .... kapan kamu nyusul ?"
saya diam tak menyawab
Ketika tetangga sebelah mati
saya bilang duluan ke pak Jalidi
"pak ..:. kapan bapak nyusul ?"
Ia menjawab ...,." asuuu" !
Jakarta,28 januari 2016

BIAR BERFUNGSI!, Sosiawan Leak

BIAR BERFUNGSI!

di kampung saya, (solo) semanggi
ada orang setengah gila namanya jumadi
saban hari kerjanya mencari dan melayat orang mati
jika tak ada warga yang meninggal dunia di kampung sendiri
ia rela kelayapan ke mana-mana, mencari hingga dini hari

suatu ketika, dia marah-marah dan frustasi
karena baik di kampung sebelah maupun kampung sendiri
tak ada orang mati,
ketika kugoda ia berkata, “asem! nggak ada yang mati!”
kugoda lebih gila, “kamu saja yang mati di!”
“ndhligik! kalau mati aku nggak bisa melayat lagi!” balas jumadi
“kamu saja yang nggak pernah layat, mati! biar berfungsi!” imbuh jumadi

Cagub, Ness Kartamihardja

Cagub
.
.
"Te satteee ...!"
tok, tok, tok ...!
"Te satteee ...!"
tok, tok, tok ...!
Tukang sate domba, lewat!
.
Aku beli sepuluh tusuk,
plus ketan bakar dua potong,
sedaap ... ...
.
Bincang sedikit sehabis makan:
"Siapa namanya mas?" tanyaku
"Amad Deny"
"Wuih, nama yang bagus!"
"Asal darimana?"
"Republik Kasihsayang"
Wow ...!
.
"Besok aku berhenti jadi tukang sate pak"
"Kenapa mas?"
"Aku mau jadi Gubernur!"
Wah,
dia hebat, mirip Hitler
"Kira-kira mas mampu tidak?"
"Tentu, karena aku punya program pribadi"
.
Programnya itu unik juga
Katanya,
ibukota akan berlambang 'domba bandot',
mirip dirinya, yang berjenggot,
hot!
Terus semboyannya juga keren:
'Memasyarakatkan sate, menyate masyarakat'
Nanti akan ada pendayagunaan perempuan muda,
yang akan dipekerjakan di pabrik,
bernama 'Manajemen Kasihsayang'
Pekerjaannya tentu saja sangat ringan:
Mengelus-elus sang pejabat dengan kasih sayang,
agar bisa bekerja dengan senang
.
Aku kagum sekali,
sungguh!
aku bilang 'wow', berkali-kali
.
Nanti,
pada hari pemilihan,
akan kucoblos dadanya,
dengan tusuk sate!

NYOLONG LUKISAN PRESIDEN

NYOLONG LUKISAN PRESIDEN
Rg Bagus Warsono

Dullah, Basuki, Raden Saleh, Sujojono, dan Henkngatung
dipigura jati ukir Jepara
kawan presiden sesama pelukis negeri
dengan kanvas tenda serdadu
melukis wajah perempuan
melukis payudara
gairah birahi kuda pejantan
memandang lama tak berkedip
dicengkeram tembok bata-malang
kapan kompi pasukan pengawal pesta
lengah oleh ciu , tayub, dan cerutu
nyolong lukisan presiden
Musik tetalu mengalun , tembang dandang gula lalu sinom
mabuk prajurit
lupa memeluk bedil
pigura lepas dinding istana
hanya nempel paku beton karatan
lukisan hilang digondol maling
sinden montok lunglai
susu ngalor ngidul
tembang ngawur semakin asyik
dini hari
maling melompat pagar
moncong bedil bingung siapa ditembak
umpat gamprat komandan jaga
lepas lencana istana!
Presiden tersenyum lalu tertawa
Kalian pengawal plagiat seperti lukisan plagiat
siap !
lalu tercium asap kanvas dibakar.


Jakarta, 9 Desember 2015

Senin, 15 Februari 2016

Bancakan Dudu Sesajen

Bancakan Dudu Sesajen

Jare Kanjeng Nabi
Syukur iku maknane iman
Ora kudu wah
ora bae mewah
setitik asal maler
akeh mampune sing niat
Nganggo nylameti sing dibangun
puisi sakarepmu
oleh kabeh pujangga
sing gawe lantaran nyipta
aksarane guritan sekarepmu
lumrahe olih kabegjan
kesohor se nusantara
jejaluk slamet kabeh penyair
bancakan melu ngincipi
sega kuning rumbah edan
iwak petek urab godong kacang
tempe seiris tahu setugel
dadar dibagi papat
dipangan bareng sadulur kabeh
tandane syukur alhamdulillah
bacakan dudu sesajen.


rg bagus w 16-2-2015

Puputan Sakkarepmu 2 Maret 2016 pulul 19.00 sampai selesai tempat Waroeng Apresiasi Bulungan.

Puputan Sakkarepmu 2 Maret 2016 pulul 19.00 sampai selesai
tempat Waroeng Apresiasi Bulungan.

Bubur abang bubur putih ,

Manise bubur abang saka gula klapa diarani gula jawa
Gurihe bubur putih campur parudan klapa
nylameti sadulur kabeh
sedulur papat lima pancer
sing njaga awak badan lunga mendi parane
pojoke bumi, tengahe alas pinggire segara benua liya
paribasa kulit diseset
luruh sejatine seniman
temu kanca bebatiran
dadiya sadulur becik
angger bakale mulya
kesohor becike
weruh kabeh karyane
dadia sastrawan Indonesia kang mumpuni
lan ora adigang adiguna
iku penyair sing dijakuk

rg bagus warsono 15-2-16

Buta Warna, Wadie Maharief

Buta Warna
Selingkuh itu
segelas kopi dan gula
dicampur susu
atau caramel
Selingkuh itu
sepotong roti bakar
dikasih mentega
dan coklat
Selingkuh itu
sepiring nasi goreng
telur ceplok mata sapi
dan udang
Selingkuh itu
puncak gunung
lembah hutan
dan sungai
yang mengalir
Selingkuh itu
hitam putih
dan abu-abu
Selingkuh itu
buta warna
----

Jumat, 12 Februari 2016

Peserta Peluncuran Sakarepmu

Daftar Nama-nama yang sudah menyatakan kesediaanya hadir dalam acara Peluncuran Sakkarepmu Rabu,2 Maret 2016 pukul 19.30 di Warung Apresiasi Bulungan Jakarta .
Diinfokan kepada koordinator acara Mas Aloysius Slamet Widodo dan Mas Bambang Widiatmoko
adalah :

1. Dedari Rsia ( Kupang NTT)
2. Ali Arsy Arsy ( Banjarbaru Kalsel)
3.Samsuni Sarman ( Banarmasin)
4. Navys Ahmad ( Tangerang)
5. Bambang Widiatmoko ( Jakarta)
6. Novia Rika ( Jakarta)
7. Heru Mugiarso ( Semarang)
8. Budhi Setyawan Penyair Purworejo ( Purworejo /Bekasi) .
9. Hasan Bisri Bfc, (Bogor)
10. Wans Sabang (Bekasi)
11. Arya Setra (Jakarta)
12. Wardjito Soeharso ( Semarang)
13. Fitrah Anugerah ( Bekasi)
14. Zaeni Boli (Bekasi/Jakarta)
15. Pelajar SMA Indramayu 3 orang
18. RgBagus Warsono (Indramayu)
19. Aloysius Slamet Widodo (Jakarta)
20. Denis Hilmawati,( Karanganyar Solo)
21; Diah Natalia (Bekasi)

Yang lain.....................silahkan
data 13-2-16

Senin, 25 Januari 2016

Ness Kartamihardja, Kamu,Pelacur dan Polisi Tidur

Kamu,Pelacur dan Polisi Tidur
.
.
“Aku dan kamu masih kita” katamu
Kupicingkan sebelah mata
( yang sebelah lagi melotot sebundar bola )
“Kita?” bantahku.
Sedangkan aku hanya merasa aku,
tanpa kamu di dalamnya
.
Benang merah pengikat kita,
telah kalian putus - dulu sekali -
lalu sisa helaiannya
yang masih menjerat satu kakiku,
aku buang ke sumur dalam;
tempat kamu rendam setumpuk empedu
yang pahitnya tak hilang sewindu
.
“Oh, mein Got ...” , katamu lagi
bahasamu itu pinjaman dari si Arya bermuka merah,
cicitnya Mas Hitler
yang keblinger,seperti kamu
.
Betul,
kamu hanya punya got;
di belakang rumahmu itu
mampetlah pula.
Karena di sana,
kamu membuangi sampah-sampah rayuan gombal
( yang gagal )
.
...............................................
.
wanginya itu ...
membuat mabuk wanita penghuni lokalisasi,
sehingga mereka menjemur alat kelamin;
di jalan bebas hambatan.
( Lalu ditawar-tawarkan kepada Polisi Tidur,
yang sedang berbaring lelap
pada jalan raya
di depan Gedung Sekolah Dasar )
.
Anak-anak yang baru bubaran kelas
berteriak adu keras
sang Polisi tetap tidur,kali ini ditambah dengkur
mungkin dia kekenyangan
mendapat hibah rupiah,
dari para pejalan kaki
yang kena tilang
.
(mereka bersalah karena mengenakan helm
dan berjalan di atas trotoar)
.
...............................................
.
Aku dan kamu,
sudah bukan kita ...
.
.
7agustus14

Cunong Nunuk Suraja, PISANG PUISI

PISANG PUISI

Ini pisangku, mana pisangmu?
Ini puisiku, mana puisimu?
Pisangku ranum, bagaimana pisangmu?
Puisiku senyum melirik puisimu, senyumkah puisi itu?
Pisang menggoreng puisiku, puisimu menggoreng cuaca
Puisiku membeku di New York, pisangmu direbus di angkringan pojok
Pisang, puisi, kamu dan aku diam termangu
Menatap layar kaca memutih kaku

2016

Minggu, 24 Januari 2016

NYALI,Gunta Wirawan

NYALI

Nyali bukan berani
Nyali bukan kuat
Nyali bukan diri
Nyalimu adalah uang
Nyaliku, uangku
Nyali bukan nyali
Berani bukan nyali
Nyali adalah uang
Nyali bukan nyali
Nyali dalam diri
Nyali berparas uang
Pontianak, 1991.

Gunta Wirawan

DIKTE KEMAJUAN, Aberijlain Gomar Samsara

DIKTE KEMAJUAN

Di punggung Ayah yang bidang
Anak-anak berderap terburu
Peradaban zaman tekun mendikte
Di dada Ibu yang lapang
Hajat dan munajat teramini
Tangis dan ratap sang anak bertuah
Kemajuan membunuh kesabaran dan kewaspadaan
Salah bijak salah jejak
Setapak demi setapak dengan pasti
Pijak berhenti pada elegi

Jepara, 240116

Mengulum Cuka, Nunung Noor El Niel

Mengulum Cuka

wanita yang mengulum cuka
di bibir senja, menggarami aksara
dengan puisi seekor lembu
berkelamin ganda
dari perselingkuhan rahasia
di bawah kerudung cahaya
wanita itu sekedar menutup
kebinalan tertunda
sebagai wanita jablai
puisi sepi pun dibelai-belai
senja pun perlahan menyapa malam
aku perempuan berbau cerutu
mengepulkan malam dengan rayuan
dan bisikan-bisikan tajam
hingga kau mengerangkan kemunafikan
setiap desah yang kutoreh pada setiap kata
akan membuatmu terajam oleh senyum tipisku
seperti senja itu, ketika kau datang
aku membukakan pintu malam untukmu
dan menyeduhkan kopi penghangat tubuh
kita pun bersulang dan kita hirup
seluruh senja itu
sebelum kita retas di pelaminan aksara
dengan pekikkan dan desahan yang sama
Dps. 23 01 16

LEBAY, Heru Mugiarso

LEBAY

ini kisah lebay malang
dapat undangan dua teman yang tajir
satu undangan pernikahan di hotel bintang lima
satu undangan ulang tahun di kapal pesiar mewah
celakanya, hari dan jamnya sama
berangkatlah si lebay dengan tampilan perlente
namun di tengah jalan ia berubah pikiran:
ke mana dulu yang ku utamakan
undangan pernikahan atau ulang tahun?
ah aku mesti ke undangan pernikahan
pasti hidangan kulinernya mewah dan berkelas
maka diarahkan kakinya ke hotel
selang berapa saat dia tergoda:
ah tapi resepsi perkawinan kan waktunya panjang
aku bisa ke pesta ulang tahun dulu
ia lalu putar haluan ke pelabuhan
belum sampai ke pelabuhan dia ingat
pengalaman dulu kehabisan hidangan\di pesta perkawinan
maka balik lagi dia melangkah ke hotel
apa lacur
tibatiba hujan turun dengan lebatnya
Lebay kehujanan dan pakaiannya basah kuyup
Malu rasanya meneruskan niatnya
datang ke acara pesta
dengan bersumpah serapah
ia pulang ke rumah
mengubur impiannya
hadir ke pesta mewah
Begitulah dongeng tentang lebay malang
yang bangun dari tidu panjangrnya
di masa kanakkanak kita...

Hujan di Minggu Sore, L Surajiya

Hujan di Minggu Sore

hujan bersajak di pelataran
intonasi dan nadanya berimbang
dengan gurauan angin
yang bergantungan di daun-daun: basah!
aku tak mampu menatapnya
dengan mata telanjang
-terlalu lembut-
dengan segelas teh pahit
di meja kosong
aku bercanda dengan sajak-sajaknya
bergulat penuh,
menghilang, hingga mencair
terbawa ke laut
minggu sore ini
aku sempurna menjadi hujan

kulon progo, 24:01:16 15:41

Jumat, 22 Januari 2016

Puisi Favoriet Buana K.S: Dunia Kentut


Dunia Kentut

Di mallmall
Di tamantaman kota
Sampai juga ke desadesa
Kita
Telah
Dikepung
Kentut meletus
Kentut di manamana
Oi kita terjebak
Di
Dunia
Kentut

Muara Bungo, 29 November 2015

Buana K.S nama lainnya Bambang Hirawan , lahir di Air Kelinsar kabupaten Lahat Sumatera selatan pada 17 Agustus 1985, Karya puisinya tergabung dalam antologi puisi Penyair Indonesia dan mancanegara, seperti Antologi 25 Penyair Muda Nusantara “ Traktat Cinta dan Dosa Dalam Dendam” (Pena Ananda, Juli 2011). Antologi Sehimpun Puisi Generasi Kini “ Jejak Sajak” (BPSM 2012), Menguak Senyap (Rios Multicipt, Padang, 2012), Senandung Alam (LeutikaPrio, 2012), Carta Farfalla (Tuas Media, 2012), Talenta Para Pengukir Tinta Emas (Awang Awang Publishing, 2012), Antologi Puisi IGAU DANAU (Sanggar Imaji, 2012), Bilingual Poetry Anthology SPRING FIESTA “Pesta Musim Semi” (Araska Publisher, 2013, Antologi Puisi Kota Jam Gadang “Bukittinggi Ambo Di Siko (Fam Publishing, 2013), Kumpulan Puisi Penyair Indonesia MEMO UNTUK PRESIDEN (Forum Sastra Surakarta, 2014), Antologi Puisi Penyair dua kota “LACAK KENDURI” (Imaji, 2014), Antologi Puisi Lumbung Puisi Sastrawan Indonesia Jilid III (Sibukumedia, 2015), Antologi Penyair Menolak Korupsi IV “Ensiklopegila Koruptor” (Forum Sastra Surakarta, 2015), dan Antologi Puisi Dari Negeri Poci VI “Negeri Laut”(KKK, 2015) , tinggal di Muara Bungo, Jambi.

Puisi Favoriet Fernanda Rochman Ardhana (Jember) : Sajak Penutup

Sajak Penutup

Yang mana hendak kau tutupi, Nona?
gerai rambutmu digumuli tudung
sementara kemolekan masih liar berkaca,
pada tatap-tatap kami yang sudi menelan ludah
dari montok dadamu kami mengakar tanya:
“Inikah sumber kenikmatan yang Tuhan berikan dari Surga-Nya?”
dari wangi ketiakmu kami menjerat tanya:
“Inikah kasturi yang Tuhan janjikan dari surga-Nya?”
dari warna paha betismu kami mendekap tanya:
“Inikah keindahan yang diturunkan Tuhan dari surga-Nya?”
dari semok pantatmu kami kian mencumbui tanya:
“Inikah pemuas birahi yang Tuhan sajikan dari surga-Nya?”
hanya saja kami tak dapat nikmati, dari balik tudung
rambutmu berbiak di puncak alam pikir
lurus ataukah berkelok, hingga mampu mengumbar amal
bagi kami, lelaki penuh makrifat
 
Cileunyi, 2015


Senin, 18 Januari 2016

Puisi Pilihan Sakarepmu






Kemeja Putih Lengan Panjang Mas Joko
Rg Bagus Warsono

Kemeja Putih Lengan Panjang Mas Joko
Dipakai lagi setelah Bi Kuni mencuci sendiri
Lalu kotor lagi oleh keringat musim kemarau panas
Karena marah mengotori kemeja Mas Joko
Menyerap emosi menahan ejekan merk kemeja
Jadul dan bahan bekas kantong terigu
Kemeja Putih Lengan Panjang Mas Joko
Dipakai lagi setelah Bi Kuni mencuci sendiri
Tak perlu dikancing pergelangan tangan
Cukup digulung ala preman terminal
Tak usah dimasukan pinggang
Seperti anak SMA 80-an
Agar tak tahu siapa yang melawan
Kemeja Putih Lengan Panjang Mas Joko
Dipakai lagi setelah Bi Kuni mencuci sendiri
Ketika Bi Kuni pulang kampung
Kemeja penuh getah
Kancing lepas benang
Krah penuh daki
Kantong tersiram tinta
Terpaksa Kemeja Putih Lengan Panjang Mas Joko
Dibeli baru dari toko
Dan urusan binatu yang cuci kemeja
Disertika dengan minyak wangi pula.

Indramayu, 24-11-2015

Republik Dagelan
Slamet Widodo

Tersebutlah di Republik Dagelan
Dewan Perwakilan Rakyatnya Dagelan
seorang dengan rekam jejak yang kelam
bisa saja diangkat jadi ketua Dewan
ya .....namanya juga Republik Dagelan !
Ketua Dewan boleh menjual diri
manfaatkan jabatan tuk kepentingan diri
pelaku kejahatan dilindungi
pelapor kejahatan dihakimi
dituntut pencemaran nama baik ....masuk bui
ya....namanya juga Republik Dagelan!
Mahkamah Kehormatan Dewan
menjadi Mahkamah Kehormatan Dagelan
badan yang tugasnya menjaga kehormatan
boleh kehilangan kehormatanya
bila ada yang menggangu kursi
urusan etika boleh dilanggar
selama membahayakan koalisi
MKD boleh kehilangan kehormatan
selama ada rente yang didapatkan
bahkan menjadi lontepun dihalalkan
ya ....namanya juga Republik Dagelan!
Yang Mulia ............
hamba saluut keberanian Paduka
melanggar etika dengan santun didepan mata
hamba saluud keberanian paduka
mempertontonkan opera sabun dengan telanjang
hamba saluud keberanian paduka
melecehkan rakyat dengan tegas lugas dan tega
Yang Mulia ........
hamba salud keberanian paduka
berani dimaki .... berani dikutuk
berani diludahi .... berani dibajing bajingkan
tak semua orang punya mental seperti paduka
bisa ceria menutup mata
bisa tenang menulikan telinga
bisa relax mengingkari hati nurani
bisa tertawa urat malunya putus
dan wajah paduka tidak berubah
kelihatan kalem dan biasa saja
Yang Mulia adalah makluk langka
seperti bukan manusia !

Jakarta,10 Desember 2015


Pahlawan Gembus (1)
Anggoro Suprapto

Sungguh indah ketika rakyat dibisiki:
Negeri ini sudah merdeka saudara-saudara
Saatnya rakyat bungah dan hilanglah gelisah
Bayangkan, ratusan tahun kita terjajah
Belanda, Jepang, Nica datang menjarah
Bagaikan kristal jatuh
Seluruh negeri remuk luluh
Setiap hari rakyat nangis dan ngeluh
Pendertiaan tak terperi bagai patri
Luka koreng moreng melepuh
Tak juga sembuh
O, ketika ibu pertiwi susah dan sakit
Para pemuda pun bangkit
Para pejuang dan rakyat melawan
Penjajahan diterjang bagai gelombang
Maka muncullah para pahlawan
Berjuang tanpa pamrih tanpa bayaran
Berjuang korbankan nyawa dan raga
Berjuang demi nusa bangsa
Berjuang demi rakyat semesta nusantara. Dan
Indonesia pun merdeka
Oi, sekali lagi
Negeriku sudah merdeka saudara-saudara
Seperti dalam lakon, babad, kitab dan sejarah
Puluhan tahun kita tercatat bebas sudah
Saatnya rakyat gembira dan tertawa
Tak terasa 70 tahun telah berlalu
Tapi kenapa rakyat masih juga ngelu?
Sekali lagi aku bertanya: Kenapa?
Tak ada yang menjawab
Hanya sepi yang mengebiri
Sampai akhirnya datang seorang rahib buta
Negerimu belum merdeka, katanya
Rakyat jatuh dari mulut singa masuk ke mulut buaya
Jika dulu dijajah orang-orang asing
Sekarang dijajah bangsa sendiri
Oleh para pemimpin yang buta mata buta hati
Memikirkan agama, golongan, dan partainya sendiri
Rakyat dibiarkan dengan daya tahannya sendiri
Kalau begitu kemana perginya
para pejuang dan pahlawan rakyat?
Mereka masih sembunyi
Memang muncul banyak pejuang
Tapi ingat mereka adalah pahlawan gembus
Hanya demi uang mereka tebus
Demi kekuasaan mereka gerus
Rakyat diabaikan tak terurus
O, pepohonan pun menunduk lesu
Bunga-bunga pada layu
Di bawah langit kekuasaan yang kelabu
Pahlawan Gembus (2)
Di negeriku memang punya banyak pahlawan
Tapi hanya kisah masa lalu yang terabaikan
Yang namanya para pahlawan bangsa
Hanya tersimpan di laci-laci meja
Di kitab-kitab para pelajar
Di lukisan yang tergantung di dinding
Hanya hikayat potret-potret muram
Hanya dongengan para pinisepuh
Jejaknya pun pupus tak ada generasi penerus
Bukankah setiap tataran setiap jaman
Ada pahlawannya sendiri?
Lalu kemana mereka pergi?
Menangislah para pahlawanku
Negerimu sudah dikuasai para pemimpin palsu
Maka pasang mata pasang telinga
mereka selalu berbicara atas nama rakyatnya
Padahal mereka berjuang untuk partainya
Untuk agamanya untuk golongannya
Untuk ego kelompoknya
Persetan dengan rakyat yang hidupnya susah
Tertekan dan gelisah
Angin pun bertiup pelan
Udara mengabarkan
Di negeri ini atas nama rakyat
Muncullah para pahlawan
Mengaku membela kebenaran
Mengaku membela nusa bangsa
Tapi sesungguhnya mereka cidra
Hanya pahlawan gembus
Bicaranya nggedebus
Perilakunya ubas-ubus
Mlekethus
Malam pun datang layar diturunkan
Para pahlawan gembus bersembunyi
Di pekatnya malam yang hitam
Hatinya hitam wajahnya hitam lidahnya hitam
Bicaranya hitam tindakannya hitam
Lalu sampai kapan?
Negeriku dikuasai golongan hitam
Berkedok pahlawan?

Semarang, Okt. 2015


Percakapan di Runway
Samsuni Sarman

Maaf, saya ke Amrik dulu ya
mau belajar bagaimana bikin nasi goreng digital dan bakso kreatif
supaya nanti bisa ditularkan untuk rakyat di desa dan kampung
agar faham memaknai kemajuan dan kemelaratan
Tak perlu sungkan ya
semua sudah saya wakilkan kok
tenda penampungan dan sapu tangan sudah diurus menteri terkait
evakuasi warga yang terpapar asap sudah disiagakan kapal perang
malah kotak-kotak rumah tinggal anti kabut asap telah dirancang
insinyur dari ITB, jadi aman saja
Maaf, saya ke Amrik bukan untuk selfi kok
cuma belajar bagaimana mengatur tambang emas di Papua
dan beberapa tambang minyak di lepas pantai
tentu untuk masa depan investasi yang lebih baik
dan saling menguntungkan, ya kan
Soal kabut asap, juga akan saya bicarakan
karena dampaknya sudah melebar ke mana-mana
ah, tidak ada anak tiri soal penanggulangan asap negeri
ada yang memang sengaja karena diatur pergub, jadi
urus sendiri pengelolaan kabut asapnya
ada yang sengaja dibakar, itu sudah ditangani pihak berwajib
malah telah dipenjarakan, sawit, lho itu soal lain
nanti pulang dari Amrik saya luruskan kembali
ini menyangkut investasi, sekali lagi investasi
buat piring nasi masyarakat juga kan?
Maaf, saya ke Amrik dulu ya
nggak bawa anak dan keluarga kok, cuma menteri terkait
lagian ini persoalan serius, jadi hemat waktu dan kesempatan
malah lebih penting dari anak dan balita yang terpapar asap
karena paru-parunya sesak, sudah ya saya pergi dulu
nanti keburu berkabut dan pesawat nggak bisa take off
sakarepmu.

 banjarmasin 24/10/2015


Reshuffle Kebelet
Yuditeha

sebagian serapah tertahan, sebagian berhamburan
di sela-sela deru perjalanan dinas
menjelma benalu di ranting tubuh
decit karet membekas di setiap jalan simpang
menandai pilihan gerak laku buru-buru
suara klakson memantul di tembok ruang
dan sebagian serpihannya menancap ke daun telinga
membakar niat hingga menghanguskannya
barisan mata berlomba menonjolkan biji-bijinya
bernapsu memenangi sesuatu
yang sebenarnya bisa diurai damai
ah, dugaan ini memang belum sepenuhnya benar
siapa tahu mereka tergesa-gesa karena ingin berbagi
sekedar ingin mengurangi beban hidup
pada sebuah tempat yang bernama kamar kecil
inilah namanya kebelet akut
oh



Negeri Patpatgulipat
 Ary Sastra

inilah negeri patpatgulipat
tempat orang bermain petak umpat
saling sikut dan sikat
paling jago lipat melipat
di negeri patpatgulipat
banyak yang mengaku bermartabat
pura pura pegang amanat
eh tak tahunya penjahat
di negeri patpatgulipat
penuh dengan kutu loncat
pura pura jadi sahabat
ternyata pengkhianat
di negeri patpatgulipat
pandai pandailah merapat
biar dikata penjilat
asal hidup selamat
di negeri patpatgulipat
semuanya mengaku atas nama rakyat
bergaya seperti ustad
uang rakyatpun disikat
di negeri patpatgulipat
banyak yang mengaku sudah bertobat
tapi ternyata hanya tipu muslihat
dasar keparat !!!

Tanjungpinang, 12 Desember 2014


Jumat, 15 Januari 2016

Membatik Diri.

Membatik Diri.

menelusuri garis yang telah toreh sendiri
menebalkan jalan setapak yang dilaluimu
mewarai diri apa yang dijalani
dan menebalkan warna ciri seni
kau bebas melalui jalanmu
membatik diri

Rg Bagus Warsono
Puisi Batik di Hari Batik dibacakan pada Hari Batik Berbaju Batik 2 oktober 2014 Batik khas Paoman.